Jumat, 26 Maret 2010

MANG OHLE

Mang Ohle: Tokoh yang Digambar Lima Kartunis
03 April 2009 jam 19:43
MANG Ohle adalah maskot harian Pikiran Rakyat di Bandung, yang telah beredar sejak tahun 1926 dengan ejaan Fikiran Ra'jat. Namun Mang Ohle sendiri baru muncul tahun 1955, ketika pemimpin redaksinya saat itu, Shakti Alamsjah, menganggap penting adanya suatu karakter yang mewakili Pikiran Rakyat sebagai koran di wilayah Jawa Barat. Rapat redaksi yang membicarakan hal ini, lantas keluar dengan keputusan, karakter itu bernama Mang Ohle --dan apakah kiranya arti Ohle itu? Tak jelas. Anekdot yang selalu disebut, seperti disampaikan penggambar Mang Ohle sekarang, Didin D. Basoeni, mengasalkannya dari kata ololeho, yang artinya tak lain adalah "ingusan." Padahal tak pernah sekali pun Mang Ohle tersebut tampil ingusan!

Penulis SENO GUMIRA AJIDARMA

Berawal dari Sutedjo
Kata itu berasal dari bahasa Sunda, sedangkan Shakti Alamsjah berasal dari Sipirok, Tapanuli Selatan, yang disebut para wartawan senior koran itu sebagai bukti penghayatannya terhadap kebudayaan Sunda yang dominan di Jawa Barat. Adapun kartunis pertama yang mewujudkan gagasan ini adalah Teddy M.D, nama pena Sutedjo, seorang perwira AURI, tepatnya Letnan Muda Udara, yang seusai jam kantor bekerja untuk Pikiran Rakyat. Teddy sendiri berasal dari Madiun, tetapi seperti juga Alamsjah, agaknya menghayati segala sesuatu tentang Sunda dengan baik, sehingga mampu melahirkan karakter seperti Mang Ohle tersebut.

Namun melahirkan suatu karakter ternyata tidak mudah. Karena keberadaan Teddy semenjak ditugaskan AURI ke Malang sudah tidak terlacak, Intisari mendengar kisah lahirnya Mang Ohle dari kartunis kedua, yakni Soewardi Nataatmadja, 72, bahwa tokoh yang dibayangkan haruslah lugu tetapi cerdas, seperti tokoh fiktif Sunda yangsangat merakyat, yakni Kabayan. Sedangkan sifat karikaturnya nanti kritis, menyindir, tetapi tidak membuat orang marah. Soewardi berkisah, bahwa Mang Ohle diandaikan mampu memberikan ide-ide yang di luar dugaan, sekaligus memberi solusi suatu masalah yang tidak terpikirkan oleh para pejabat. Dalam statusnya sebagai editorial cartoon, tokoh kartun seperti Mang Ohle bahkan secara langsung mewakili sikap dan pendapat media dalam berbagai persoalan bangsa dan negara. Dengan kata lain, kartun itu sebenarnyalah sungguh-sungguh serius.

"Menggambarnya gampang, bisa sekali jadi," kata Soewardi, "ide-idenya yang susah." Hal ini diakui juga oleh Didin. Maka jika pada masa Soewardi ide-ide sering digali dari desk Luar Negeri yang dikepalai Sarbini; pada masa Didin, dan juga T. Sutanto, penggambar Mang Ohle sebelum Didin, ide-ide sering datang dari Bram M. Darmaprawira, redaktur pelaksana Pikiran Rakyat. Jika dokumentasi kartun-kartun Mang Ohle yang lama diperiksa, memang bentuknya khas, yakni secara dominan teks terpisah dari gambar. Bahkan teks itu juga tidak digambar sama sekali. Gambar mengacu kepada teks, dan teks tersebut ditulis seorang redaktur.

Melalui masa yang panjang, menarik untuk mengamati bagaimana karakter Mang Ohle harus bersikap menghadapi keadaan zamannya, dari masa Orde Lama, ke Orde Baru, sampai Reformasi. Benarkah Mang Ohle selalu tampil sama, sesuai dengan patokan yang telah ditancapkan media tempatnya menjelma? Juga menarik untuk memeriksa, bagaimana selama itu Mang Ohle dihadirkan ke tengah pembacanya oleh tak kurang dari lima kartunis: Teddy M. D. (1957-1964), Soewardi Nataatmadja (1964-1982), T. Sutanto (1982-1984), Didin D. Basoeni (1984 sampai sekarang), dan Tata Sukmara yang lebih dikenal sebagai Tata Essas (beberapa bulan pada 1984). Artinya, meski kelima-limanya menggenggam patokan yang sama, seberapa jauh penafsiran pribadi dan perbedaan zaman membuatnya berbeda?

Bakiak dan sarung
Sebelum menengok gagasannya, kita tengok dahulu bagaimana sosok Mang Ohle itu telah dibentuk oleh kelima penggambarnya. Namun hanya ada satu gambar karya Teddy yang bisa ditemukan dalam Pusat Data Redaksi Pikiran Rakyat, dan setidaknya dari satu gambar tersebut, kostum Mang Ohle memang berbeda: tidak mengenakan sarung, tidak mengenakan kaos oblong, tetapi memang berpici dan sudah berkumis Charlie Chaplin. Dibandingkan dengan sosok-sosok Mang Ohle dari masa kemudian, Mang Ohle-nya Teddy memang seperti "masih muda" dan "masih aktif" daripada yang terkesankan kemudian.

Namun sudah tampak keluarga yang sama di sana, seorang istri, yang kelak komentarnya sering lebih keras dari Mang Ohle, dan dua anak kecil yang tentulah anak-anaknya, yang sampai hari ini masih terus menjadi anak kecil. Tanda Palang Merah pada lengan kiri Mang Ohle agaknya berhubungan dengan konteks kebersihan, sampai harus mengorbankan koran Pikiran Rakyat itu sendiri sebagai alas kaki. Semacam iklan layanan masyarakat, ataukah sindiran terhadap takutnya penguasa kepada pikiran kritis, sehingga berlangsung "pembersihan" ?

Dalam versi Soewardi, Mang Ohle selalu tampil setengah badan, tetapi dari penampilanlebih dari setengah badan yang jarang, Mang Ohle memang pakai sarung; dan adalah Sutanto, 66, yang mengaku dengan sadar untuk menampilkannya seluruh tubuh. Ini berarti, meski patokan tentang sosok Mang Ohle jelas tidak diubah, para penggambar masih mungkin menampilkan kreasinya sendiri. Didin, 64, penggambar Mang Ohle sampai hari ini, juga dengan sadar memapankan karakter Mang Ohle: sarung poleng yang garisnya harus tiga; anaknya dua; mengenakan bakiak, sebagai ciri khas rakyat Priangan. Jika kita perhatikan bentuk pipa cangklongnya, maka antara penggambaran Soewardi, Sutanto, Tata Essas, dan Didin, bentuknya sudah berbeda-beda, dari yang lengkung, diluruskan, lantas dilengkungkan lagi. Perhatikan juga perbedaan besar antara sarung Mang Ohle yang digambar Tata Essas, yang sama dengan T. Sutanto, dibanding sarung poleng garis tiga Didin Basuni. Mang Ohle bagaikan suatu media bagi para penggambar, untuk memberikan beban maknanya masing-masing.

Di balik gambar: pertarungan penafsiran
Nah, begitu yang terjadi dengan gambar, begitu pulakah yang terjadi dengan kebijakannya? Dalam "bahasa diskusi", apakah ideologi masih bertahan dalam perbedaan artikulasi? Teori artikulasi, seperti dikembangkan Stuart Hall, pemikir Cultural Studies, dari ahli bahasa Valentin Volosinov, secara ringkas berbunyi: Teks yang sama akan mempunyai makna berbeda dalam konteks, wacana, maupun momen sosial historis yang berbeda. Ideologi Mang Ohle semenjak awal adalah "menyindir tanpa menyinggung", bukan karena takut, tetapi yang menurut Didin kepada Intisari, "Keras memang terasa, tetapi dengan kehalusan akan lebih merasuk ke hati." Ini memang "seni kritik" yang rumit, tetapi yang setidaknya pada masa Orde Baru agaknya sudah menjadi kebutuhan.

Menengok kembali artikulasi Teddy M. D. dari masa Orde Lama, memang terasa adanya ketegasan bersikap. Bagaimana selanjutnya? Soewardi menggambar Mang Ohle dari akhir masa Orde Lama sampai pada masa kemapanan Orde Baru, maka Mang Ohle-nya pun berproses, dari yang semula "bebas bicara" sampai "hati-hati bicara", tetapi yang tidak berpengaruh kepada coretan gambar Soewardi, yang diakui Sutanto sebagai ekspresif. Perhatikan saja gaya "breakdance" Mang Ohle.

Apakah masa kejayaan Orde Baru harus berarti tertindasnya kebebasan karikatur? Tampaknya justru pembebanan wacana kelompok dominan mengundang perlawanan kelompok terbawahkan, dan ini dinyatakan Sutanto. "Mang Ohle sebelumnya sering tampak pesimis dan pasrah, tampil sebagai orang kasihan," katanya kepada Intisari, "menurut saya karikatur itu harus fight." Dalam artikulasi Sutanto, penggambarannya tidak lagi mengandalkan teks yang kadang-kadang memang terlalu panjang, ia menguji gambarnya dengan bergantian menutup teks dan gambar; Mang Ohle dibikin lebih lucu; dan sudut pandang atas topik apa pun dipastikan dari sudut pandang rakyat kecil.

Ketika T. Sutanto, lulusan Jurusan Seni Grafis ITB, melanjutkan pelajaran ke Pratt Institute, New York, juga untuk belajar desain grafis, pekerjaannya dilanjutkan Didin D. Basoeni, yang juga berasal dari Departemen Seni Rupa ITB, tetapi yang telah bekerja sebagai wartawa bidang seni budaya dan pendidikan di Pikiran Rakyat. Menurut Didin, ia mengubah dari yang naturalis menjadi garis, dan adalah Mang Ohle karya Didin ini yang kemudian termuat dalam seri prangko Indonesian Cartoon Characters pada 13 Maret 2000. Sampai sekarang, berarti telah 23 tahun ia menggambar Mang Ohle sampai menembus babak Reformasi, dan adalah artikulasi Didin tentunya yang mendominasi citra Mang Ohle kini. Sedangkan Didin berprinsip, dalam bahasa Sunda, "Herang caina beunang laukna" , yang berarti "jernih airnya dapat ikannya". Maksudnya, tentu kritik yang menghindari konflik. Disebutnya pula, pada zaman pembreidelan, yang paling mudah dilihat adalah gambar. "Makanya hati-hati sekali," katanya lagi.

Tentu berhak diperiksa pula artikulasi Tata Essas, meski hanya beberapa bulan menggantikan Didin, apakah yang telah diberikannya dalam menafsir Mang Ohle? Sebagai pengganti sementara Didin, tampaknya Essas berusaha memiripkan segalanya dengan Didin, tapi seberapa mungkin manusia bisa sama? Sarung Mang Ohle yang digambar Essas jelas lebih mirip sarung poleng blok hitam yang digambar Soewardi, dan masih setia diikuti Sutanto, daripada kreasi baru Didin yang menjadikannya poleng garis tiga. Di luar perkara sarung, teks pada gambar-gambar Essas sebagian besar lebih ringkas dibanding semuanya, tetapi dengan sikap yang masih sama dengan teks pada gambar-gambar Didin.

Pluralitas dalam satu tokoh
Dengan terdapatnya berbagai macam pandangan ini, mungkinkah Mang Ohle secara keseluruhan tampil sebagai satu sosok yang utuh? Sepintas lalu, memang Mang Ohle telah tersepakati sebagai citra "bapak-bapak" Sunda yang sabar dan selalu menerima keadaan, meski tetap menunjukkan "kebenaran" sebagai manusia yang tampak bijak. Dengan kata lain, sebagai tokoh kartun, kelucuannya tidaklah terlalu atraktif, apalagi provokatif. Ibarat rombongan punakawan yang selalu melawak dalam gara-gara (selingan antara dua bagian dalam dramaturgi wayang), Mang Ohle bukanlah Gareng, bukan pula Petruk atau Udel, apalagi Bagong atawa Cepot, melainkan Semar. Dalam lawakan pun perlu kata akhir nan bijak, dan agaknya kesahihan Mang Ohle sekarang sebagai tokoh kartun teracu ke sana. Pendekatan Didin sendiri dalam masa penggambaran Mang Ohle yang panjang itu bukannya tak berubah. Perhatikan bahwa sekarang teks sudah sepenuhnya menjadi bagian gambar, dalam bentuk balon komik..

Namun jika yang sepintas lalu diulang kembali, dan diperiksa secara rinci, satu per satu dari hari ke hari dari masa ke masa, maka memang tiada kebenaran tunggal dalam Mang Ohle. Tokoh ini, yang bersama Pikiran Rakyat, sering diibaratkan sebagai "representasi Sunda", dalam dirinya sendiri sudah merupakan pluralitas teks, tempat berbagai makna berjuang dan bertarung-bukan hanya karena keberagaman pribadi penggambarnya, melainkan juga karena sirkulasi maknanya berlangsung dalam berbagai wacana, pada berbagai momen historis yang berbeda pula.

(Tulisan ini diambil dari Intisari No. 528 Tahun XLIV Juli 2007)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar